Wednesday, April 11, 2012

METAL HISTORY: Oki dari DEATH VOMIT bercerita tentang TOUR AUSTRALIAN (Yogyakarta brutal death-metal) (Bahasa Indonesian)


Oki Haribowo (DEATH VOMIT), Kieran James (BUSUK WEBZINE) & Corna Irawan (manager DEATH VOMIT), Yogya, 13 Oktober 2011
Oleh Dr Kieran James (University of Southern Queensland)
Wawancara di: Stasiun Yogya, 12 Oktober 2011
Translation oleh Popo (vokalis, DEMONS DAMN)

Kieran James: Oki, maukah kamu melakukan wawancara sekarang karena saya rasa kita harus menunggu disini selama 30 menit untuk membeli tiket kereta?

Oki: Ya, tentu, sobat.

KJ: Apa harapan utamamu untuk tour Death Vomit di Australian?

Oki: kita pergi ke Autralia bukan untuk mencari uang tapi untuk mencari link agar band lain pun bisa pergi ke Australia. Kita punya dua tujuan: untuk main di semua pertunjukan dan untuk melihat Opera House! [Sydney]

KJ: Dan kedua tujuanmu tercapai! Aku melihat photo-mu di Opera House pada Facebook Jason. Kamu tau Metallica punya photo yang diambil ditempat yang sama? Ada pada website mereka, pada pagian gambar 1988-91.

Oki: Dengan Jason Newstead?

KJ: Ya.

KJ: Ceritakan tentang pengalamanmu tentang Tour Australian.

Oki: Di Perth [pertunjukan pertama] crowd yang sangat bagus, di Bar Amplifier, sekitar 300 hingga 400 orang. Pertunjukan yang lain hanya sekitar 30-40. Di Bar Amplifier kita bermain bersama Napalm Death dan Dying Fetus. Kita juga bermain di Hotel Civic [Inglewood, Perth northern suburbs]. Pertunjukan selanjutnya di Geelong lalu di Melbourne.

Oki (DEATH VOMIT) & Ridzky (VENOMED), 12 Okt 11
KJ: Dimana kamu mendapatkan crowd yang sangat bersemangat?

Oki: Buat saya crowd yang paling membuat saya bersemangat ketika kita bermain di Perth, Geelong, dan Brisbane. Semua kota yang kita kunjungi membuat kita sangat bersemangat.

KJ: Band seperti apa saja yang menjadi pembuka kalian?

Oki: Di Perth, Geelong, dan Brisbane kita bermain dengan band death-metal. Di kota yang lainnya [Melbourne dan Sydney] kita bermain dengan band metalcore.

KJ: Ini adalah pertanyaan yang mungkin banyak para metalheads Indonesia ingin mengetahui, tentang: bagaimana fans disana dibandingkan dengan di Indonesia?

Oki: Saya bertemu dengan seseorang disana dan mereka ingin membeli merchandise kami tapi sebelumnya mereka ingin melihat pertunjukan kami. Jika mereka menyukai musik kami maka mereka akan membeli merchandise kami. Saya suka itu, berbeda dengan disini. Disini mereka membeli CD hanya untuk koleksi mereka. Kami bertiga sangat gugup, kami menggunakan nama Jogjakarta Corpse Grinder untuk komunitas seperti Bandung Death Metal Syndicate. Kami mengenal satu sama lain dari kaos. Jika saya menggunakan kaos Suffocation (pada dini hari) tapi saya tidak mendengar orang-orang dari Suffocation akan memberi tau saya untuk tidak memakai kaosnya sebelum saya mendengar Suffocation. Sangat berbeda dengan sekarang; anak-anak muda [sekarang] akan menggunakan kaos band apa saja meskipun mereka tidak pernah mendengar musiknya. Kami menyebut mereka “the posers” abal-abal, yang berarti sama seperti posers.

KJ: Apa kamu bertemu dengan band yang lainnya?

Oki: Ya. Saya bertemu Grotesque dari Perth; mereka orang-orang yang baik, di Sydney Daemonfetalharvest.

KJ: Apakah kamu memperhatikan crowd disana, karena itu sebuah bar, seseorang headbang di depan dan yang lainnya dibelakang hanya berdiri menonton kalian sambil memegang gelas beer mereka?

Oki: Disana orang-orang menunjukan rasa menghargai dengan cara yang berbeda. Di Australia mereka berdiri sambil memegang gelas beer. Kamu tidak bisa merokok di dalam pub, berbeda dengan disini. kami bertiga terkena flu di Melbourne. Ketika kami bermain di Sydney vocalist kami [Sofyan] ingin mengatakan judul dari lagu kami, dia batuk, dan penonton disana tertawa.

KJ: Apakah kamu melihat orang Indonesia di pertunjukan kalian?

Oki: Saya melihat orang Indonesia di kerumunan di Melbourne; orang kaya yang datang ke pertunjukan.

KJ: Bagaimana pertama kali kamu bertemu dengan Jason [Hutagalung dari Xenophobic Records yang mengatur tour]?

Oki: Kami bertemu Jason di Solo pada Rock in Solo ketika kita menjadi band pembuka Psycroptic [Australia], Burgerkill dan band Solo , sekitar tahun 2009.

KJ: Apakah kamu yang meminta kepada Jason atau Jason yang meminta kalian untuk memlakukan tour Australia?

Oki: Jason meminta kami untuk bermain di Australia, Jason yang mengatur semua kota tempat kita melakukan pertunjukan.

KJ: Adakah pengalaman special dalam tour yang ingin kamu bagi kepada kita?

Oki: Saya ingat waktu di Melbourne saat itu lima derajat, disana sangat-sangat dingin, saya tidak pernah merasakan cuaca sedingin itu [KJ: padahal saat itu musim semi bukan musim dingin!] saya berjalan mengenakan kaos untuk membeli Smirnoff tidak mengenakan sepatu, sangat dingin sekali.

KJ: Dimana kamu merasakan hal yang mengejutkan di Australia?

Oki: Semuanya mengejutkan. Kami tidak pernah membayangkan apapun sebelum kami pergi kesana. Ketika kita masih disini kami sempat bertanya-tanya apa yang akan terjadi disana. Apakah crowd disana akan menyukai kita? Apakah mereka senang kepada kami ras asia?

KJ: Band apa saja yang menginspirasi kamu?

Oki: Malevolent Creation, Deicide, lebih banyak dari band-band old-school, Exodus, thrash-metal, dan genre yang lain seperti Janis Joplin yang memainkan musik jazz. Favourite saya Malevolent Creation album Ten Commandments, Retribution, dan Stillborn.

Bad boys running wild: Corna, Oki, Fandi
KJ: Saya punya Retribution, kebanyakan lagu-lagunya slow atau sedang tapi beberapa yang kencang sangat bagus sekali.

KJ: Adakah lagu baru yang ingin kamu bahas?

Oki: Kami punya lagu baru “Dark Ancients” tentang kejayaan kegelapan, dan segala macam tentang Neraka, segala macam pada zaman Nabi seperti Muhammad dan Yesus.

KJ: Bagaimana pendapat kamu tentang scene black-metal di Indonesia?

Oki: semua orang-orang band black-metal disini, agama mereka Islam. Saya tidak mengatakan semua band tapi beberapa dari lirik mereka menentang Umat Kristen, menggelikan bagi saya. Seperti Glen Benton [vocalis Deicide] dia mempunyai pengalaman nyata dengan umat Kristen karena ayahnya seorang Pastur...

KJ: Saya tidak berpikir bahwa ayahnya seorang pastur. Saya rasa orang tuanya hanya membawanya ke sekolah Minggu. Tantenya seorang penyihir dan hal itu yang menuntun dia ke arah sana.

Oki: Ya!

KJ: Jason selalu membahas tentang Funeral Inception; mereka kuat dengan perlawanan terhadap penganut komunitas fundamentalis islam di Jakarta, benar?

Oki: Ya. Opini saya adalah [musikalitas] Funeral Inception seperti Suffocation dari era Effigy of the Forgotten ke Pierced from Within.

[saat itu wawancara berakhir karena nomor antrian saya telah dipanggil jadi saya harus bergegas membeli tiket kereta]

Perbincangan berlanjut saat saya dibonceng oleh Oki menggunakan motornya pada hari yang sama, 12 October 2011, di Yogya:

KJ: Masalah apa yang terjadi ketika memainkan death-metal di Yogja?

Oki: Masalah dengan death-metal di Indo adalah uang. Orang-orang butuh pekerjaan dan hal sulit untuk mengatur antara pekerjaan dan band. Dua tahun yang lalu adalah saat yang sulit saat saya harus meninggalkan pekerjaan untuk melakukan pertunjukan diluar Yogya. Sekarang saya mempunyai toko sandwich waralaba bersama kekasih saya. Saya berhenti bekerja sebelum tour Australia.

KJ: Jadi kamu lulusan Universitas? Apa yang kamu pelajari?

Oki: Ya. Saya belajar managemen. Setelah saya lulus orang tua saya meminta saya untuk mencari pekerjaan. Mereka tidak mengerti death-metal! Budaya yang kolot. Mereka tidak menerima bayi sebelum menikah.

No comments:

Post a Comment