Sunday, September 15, 2013

ARTIKEL : TENTANG SEJARAH DEATH METAL (Bab 3)



DEATH METAL

1. Sejarah Awal Death Metal :
Dimulai pada awal tahun 1980-an. Dan suatu gaya muncul antara Death Metal, Black Metal  dan Thrash Metal. Band-band dari Eropa seperti Venom,
Hellhammer
Bathory dan Hellhammer, dan band-band dari AS seperti Possessed dan Slayer yang membentuk suatu dasar gaya musik extreme heavy meta. Dan dari sini mengarah ke Death dan Thrash Metal. Band Inggris ‘Venom’, mengkristalkan unsur-unsur dari apa yang kemudian menjadi dikenal sebagai Thrash Metal, Death Metal dan Black Metal dengan album mereka pada tahun 1981 yang berjudul ‘Welcome to Hell’. Mereka : Gelap, Suara berisik, vocal kasar dan menggambarkan kegerian, dengan imej satanic, membuktikan suatu inspirasi utama untuk band extreme metal. Band yang sangat berpengaruh lainnya seperti Slayer yang dibentuk ditahun 1981. Walaupun band ini menggusung musik Thrash Metal. Musik ‘Slayer’ lebih kejam dibandingkan Thrash Metal nya Metallica pada jaman ini. Megadeth atau Exodus, Slayer dihormati sebagai salah satu dari yang paling mengancam band-band Thrash Metal dari awal 1980-an dan dipertimbangkan sebagai nenek moyang dan yang berpengaruh besar atas hadirnya Death Metal. Kecepatan yang sangat berbahaya yang mereka miliki dan kombinasi instrument yang berani dengan lirik lagu tentang kematian, kekerasan, peperangan dan satanism, membuat
Slayer
Slayer mempunyai fans fanatic. Menurut Allmusic, album ketiga mereka yang bertitle ‘Reign In Blood’, mengilhami seluruh genre death metal dan mempunyai dampak besar pada leader genre yaitu Death, Obituary dan Morbid Angel.
Bangkit dari struktur awal musik thrash metal dan black metal, Death metal muncul selama pertengahan 1980-an dengan band-band seperti Slayer, Kreator, Venom dan Celtic Frost adalah merupakan pengaruh yang sangat penting dari masing-masing genre. Possessed dan Death, bersama band-band Obituary, Carcass, Morbid Angel dan Deicide sering dianggap pelopor dari genre tersebut. Pada akhir 1980-an dan awal 1990, Death Metal memperoleh perhatian lebih banyak dari beberapa media-media, yang mana sebagai musik pelopor. Dan disamping itu juga banyak bermunculan beberapa label seperti Combat, Earache dan RoadRunner dan banyak band-band death metal yang melakukan deal atau contract dengan label-label tersebut. Sejak itu pula death metal telah mengalami keanekaragaman. Menelurkan variasi yang kaya dari sub genre death metal telah menemui pertentangan yang cukup layak dipertimbangkan dari kultur trend, yang mana sebagian besar disebabkan karena tema yang kurang menarik. Langkah dan perumpamaan personal melingkupi banyak band. Dan ini secara khusus dipandang sebagai suatu format musik ‘Underground’, sebagian dikarenakan tidak mengikuti trend yang lagi marak dalam kaitan keagresifan dan musisi-musisi death metal memilih untuk tidak begitu menghiraukannya. Bagaimanapun, ini memberikan jalan serentak ke tempat-tempat seperti Amerika Selatan, dan bahkan ke Hindia Timur dalam bentuk Thrash/Black/Death Metal.

2. Apa sih Musik Death Metal itu :
Death Metal adalah subgenre dari extreme musik heavy metal. Ini biasanya menggunakan permainan gitar yang heavyly distorted, tremolo picking, deep growling vocals, blast beat drumming, minor keys or atonality, dan struktur lagu yang kompleks dengan tempo yang sering berubah.
Death
Beberapa ciri khasnya adalah lirik lagunya yang bertemakan kekerasan atau kematian. Permainan ritme gitar rendah (downtuned rhythm guitars), perkusi yang cepat dan intensitas dinamis. Dan vocal biasanya dinyanyikan dengan gerutuan (death grunt) atay geraman maut alias death growl. Beberapa pelopor genre ini adalah VENOM dengan albumnya ‘Welcome to Hell’ (1981) dan DEATH dengan albumnya ‘Scream Bloody Gore’(1987). Death Metal kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh band-band seperti Cannibal Corpse, Morbid Angel, Entombed, God Macabre, Carnage dan Grave. Kemudian pada era 2000’an Death Metal berkembang sangat pesat.
Banyak band-band jebolan aliran death metal menjadi pembaharuan dalam musik metal. Band-band tersebut diantaranya yaitu Inhuman Dissiliency, Disavowed, Viraemia, The Berzeker, Dying Fetus, Condemned dan masih banyak lagi.

3. Berikut daftar umum untuk subgenre di death metal :
‘Perlu dicatat’ bahwa contoh yang dikutip disini tidak selalu ekslusif untuk satu gaya tertentu. Banyak band mudah ditempatkan di dua atau lebih kategori berikutnya dan kategorisasi spesifik band sering menjadi sumber perdebatan karena opini pribadi dan interpretasi.
a. Melodic Death Metal : Death Metal Scandinavia dapat dianggap pendahulu dari ‘Melodic Death Metal’ atau kadang-kadang disebut ‘Melodeath’, adalah
Dark Transquality
musik heavy metal dicampur dengan beberapa unsur death metal, seperti vocal menggeram dan penggunaan liberal blastbeats. Lagu yang biasanya didasarkan pada Iron Maiden esque harmony dan melodi gitar dengan tipikal lebih tinggi dan bernada geram, karena bertentangan dengan riff brutal death metal tradisional dengan death grunts yang lebih rendah. Carcass terkadang diakui yang telah pertama kali memainkan melodic death metal di album ‘Heartwork’ tahun 1993, meskipun band-band Swedia seperti In Flames, Dark Transquality, dan At The Gates biasanya disebut sebagai pelopor utama dari genre tersebut dan juga merupakan metal soundnya dari Gothenburg (Gothenburg adalah nama kota di Swedia).
b. Technical Death Metal : Teknikal death metal atau Progresif death metal, merupakan istilah terkait yang mengacu pada band namun perbedaan ada pada kompleksitas dari musik mereka. Ciri umum adalah struktur lagu dinamis, ketukan, ritem, yang khas, harmoni dan melodi yang tidak biasa dilakukan. Band-band yang dideskripsikan sebagai Teknikal Death Metal atau Progresif Death Metal umumnya menggabungkan estetika death metal dengan beberapa elemen seperti progresif rock, jazz, dan musik klasik. Sementara istilah
Cryptopsy
Teknikal Death Metal sendiri kadang-kadang digunakan untuk menggambarkan band yang fokus pada kecepatan dan ekstremitas serta kompleksitas, batas antara death metal progresif dan teknikal adalah sangatlah tipis. Teknikal death metal dan Progresif death metal, untuk jangka pendek adalah istilah umum yang diterapkan untuk band-band seperti Cryptopsy, Edge Of Sanity, Opeth, Origin, dan Sadist. Cynic, Atheist, Pestilence, dan Gorguts adalah contoh dari band-band terkenal karena menciptakan Jazz dengan memasukkan/mempengaruhi unsur-unsur dari death metal. Necrophagist dan Spawn Of Possession dikenal karena gaya musiknya yang dipengaruhi oleh death metal klasik. Pelopor musik death metal yaitu ‘Death’ juga menyempurnakan gaya mereka ke arah yang lebih progresif dalam beberapa tahun terakhir mereka. Band dari Polandia yaitu Decapitated, memperoleh pengakuan sebagai salah satu Modern Teknikal Death Metal pertama di Eropa.
c. Deathcore : Dengan meningkatnya popularitas Metalcore, beberapa cirinya telah dimasukkan ke dalam death metal. Band-band seperti Suicide Silence, Salt The Wound dan karya-karya awal dari ‘Job for a Cowboy’ menggabungkan unsur metalcore dan pengaruh death metal. Karakteristik death metal, seperti fast drumming (termasuk blast beats), down-tuned guitars, tremolo picking dan growled vocals dan digabungkannya screamed vocals, melodic riffs dan breakdowns.
d. Death/Doom : Adalah gaya /style yang mengkombinasikan tempo lambat dan suasana melankolis dari doom metal dengan gaya vocal yang deep growling dan double kick drumming death metal. Gaya ini muncul pada akhir 1980-an dan memperoleh sejumlah popularitas selama tahun 1990-an. Hal ini dipelopori oleh band-band seperti Autopsy, Winter, Asphyx, Disembowelment, Paradise Lost dan My Dying Bride.
e. Goregrind dan Deathgrind : Adalah gaya/style yang mencampurkan intensitas, kecepatan dan keringkasan.dari Grindcore dengan kompleksitas death metal. Hal ini berbeda di death metal dalam penggunaan solo gitar yang jarang dilakukan, vokal menjerit /shrieked vocals adalah yang lebih menonjol dan sebagai gaya vocal utama (meskipun death growls masih digunakan dan beberapa band deathgrind membuatnya lebih banyak menggunakan gaya vocal yang terakhir), dan lagu-lagu umumnya lebih pendek
Brujeria
panjang, biasanya berdurasi antara satu dan tiga menit. Gaya/style berbeda dari Grindcore dalam hal pendekatan yang menjurus ke masalah yang lebih teknis dan lebih sedikit adanya pengaruh dan estetika dari hardcore punk. Beberapa contoh penting dari band-band Deathgrind yaitu Brujeria, Cattle Decapitation, Cephalic Carnage, Pig Destroyer, Circle Of Dead Children, Rotten Sound, Gut, Cock and Ball Torture.
f. Blackened Death Metal : Adalah gaya/style yang menggabungkan unsur death metal dan black metal. Namun band-band ini sering cenderung mengadopsi beberapa karakteristik tematik genre seperti Satanism dan Okultisme serta termasuk semua topic umum dan gambar. Band-band yang memainkan Blackened Death Metal yaitu  Belphegor, Behemoth, Akercoke dan Sacramentum.
g. Death ‘n’ Roll : Adalah gaya/style yang menggabungkan unsur death metal
dengan tipical growled vocals dan highly distorted detuned guitar riffs bersama dengan unsur musik dari classic rock n’roll serta hardrock era 1970-an dan juga heavy metal. Band-bandnya seperti Entombed dan Gorefest.

Perpaduan dan Subgenre Lainnya : Ada beberapa subgenre lain pada musik heavy metal yang datang dari perpaduan death metal dan genre non-metal lainnya seperti paduan death metal dan jazz. Atheis dan Cynic adalah dua contoh band yang memainkan jenis perpaduan musik tersebut. Memasukkan unsur solo drum Jazz pada albumnya sedangkan elemen lainnya kemudian dimasukkan dari Jazz Fusion. Nile juga telah memasukkan unsur musik dari Mesir dan Timur Tengah untuk mengangkat tema musik mereka. Sementara Alchemist juga telah memasukkan ‘Psychedelia bersama dengan musik Aborigin. Beberapa kelompok seperti Nightfall, Septic Flesh, dan Eternal Tears Of Sorrow, telah memasukkan keyboard dan element simfoni yang menciptakan perpaduan dari symphonic metal dan death metal, yang kadang-kadang disebut sebagai Symphonic Death Metal.


4. Berikut ini adalah beberapa fakta unik mengenai musik Death Metal :
        Kekomplektisitasan Musik : Meskipun suara-suara parau dan gitar yang kasar kadang-kadang menganggu pendengaran kita (terutama bagi mereka yang hanya terbiasa dengan musik lembut), suara-suara tadi lebih dari sekedar kebisingan idiot. Ada melodi, pola, dan komplektisitas untuk disadari dan dihargai jika kita punya cukup banyak waktu. Mungkin hal ini akan sedikit menyentil para pencinta fanatic musik melayu tanah air.
        Kesulitan Untuk Mempelajari : Ketika seseorang dengan background musik dasar dapat secara instan belajar main musik pop, untuk mempelajari musik Death Metal dibutuhkan waktu yang lebih lama. Sebagai bandingannya, mungkin membutuhkan waktu yang sama untuk belajar main Death Metal dengan belajar musik klasik atau Jazz.. Untuk instrument perkusif, permainan drum pada musik Death Metal adalah sangat technical dan presisi. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi seorang drummer Death Metal untuk mencapai skill yang memadai untuk memainkan pola rhythm yang sedemikian kompleks pada tempo yang kedengarannya mustahil. Sebagian besar elemen perkusi pada musik yang popular (dengan perkecualian musik Jazz) sangat simple dan kadang-kadang hanya merupakan musik elektronik yang bukan dimainkan musisi ‘betulan’. Inilah yang dijual ke public. Untuk mereka yang lebih tertarik dengan skill, Jazz dan Death Metal menawarkan suguhan yang lebih menarik untuk menikmati bakat gitar dan drum.
      Aksi Panggung Yang Eksploratif : Lihatlah bagaimana para musisi Death Metal yang memainkan instrument secara eksploratif. Jika anda mencoba
memainkannya sendiri, anda akan menyadari bahwa musisi Death Metal adalah musisi-musisi yang berbakat. Mempelajarinya membutuhkan latihan dan dedikasi, yang menghapus steretipe bahwa para MetalHead adalah orang-orang malas. Anda mungkin juga akan terkesan betapa energiknya para anak-anak Death Metal. Jangan harap ada Death Metal di acara-acara seperti Bla bla bla metalfest, bla bla bla gemuruh fest….. dan sebagainya.
      Jarangnya Terjadi Plagiarisme : Di Death Metal, hampir setiap musisi selalu menulis musik mereka sendiri. Termasuk riff, drums, solo dan liriknya. Menulis musik anda sendiri membuktikan dimensi lain dari kepiawaian instrumental seorang musisi, menjadikan musik lebih personal dan tidak ‘pasaran’. Jarang ditemukan kasus Plagiatisme atau saling mengklaim lagu death metal.
       Mempunyai Lirik Yang Fiksional : Jangan lihat musiknya dari konteks atau subyek pribadi. Kebanyakan lirik Death Metal adalah fiksi dan tidak untuk diikuti. Jadi jangan menganggap apa yang anda dengar di musik death metal adalah serius. Lirik-lirik itu hanyalah penumpahan emosi seorang musisi pada lagunya. Mungkin liriknya terdengar tidak sopan dan sadis, tentang zombie, pembunuhan berantai atau bunuh diri. Tapi hal-hal tersebut adalah kenyataan yang tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia. Jadi apakah salah bagi seorang musisi death metal untuk merekam kejadian-kejadian tersebut secara fiksional menjadi sebuah lagu ? Sebenaranya banyak juga musisi Death Metal yang mengambil tema dari cerita rakyat, social, masalah agama dan sejarah.
      Mempunyai Banyak Sub Genre : Tidak semua Death Metal sama. Genre ini mencakup banyak sub-genre yang kadang-kadang bercampur satu sama lainnya. Hasilnya, sulit untuk mendeksripsikan satu band dengan satu sub-genre saja.

5.Cara Pandang dan Pola Pikir Musisi Death Metal :
Walau memiliki lirik dan irama musik yang terbilang ‘aneh’, ini adalah sebuah bentuk para musisi tersebut dan menggambarkan apa yang ingin disampaikan dalam musik tersebut. Rata-rata musisi Death Metal adalah orang yang memiliki pola pikir, cara pandang dan wawasan yang luas, ini adalah satu factor yang membuat lirik-lirik dan irama lagu Death Metal sangat sulit dipahami karena banyak menggunakan bahasa yang ‘berat’. Jika anda adalah orang yang terbiasa dengan hal-hal melow dan berada pada situasi yang sama setiap hari maka jangan harap bisa memahami ataupun menikmati Death Metal.

6. Bagaimana sih Karakter pada music Death Metal :

Instrumentasi : Setup yang paling sering digunakan dalam genre death metal adalah dua gitar listrik, gitar bass, vocalis dan drummer yang sering menggunakan ‘Hyper double-bass blast beats’. Meskipun ini setup standar,
namun kadang-kadang ada juga yang menggabungkan instrument lainnya seperti Keyboard. Genre ini sering dikenal dengan tempo kerasnya, melakukan permainan gitar yang cepat, highly distorted dan downtuned, dimainkan dengan teknik seperti palm muting dan tremolo picking. Perkusi yang sangat agresif dan kuat serta Pola permainan drum yang sangat cepat dan sering menambah kompleksitas dari genre death metal ini. Death metal bisa termasuk progresi akord kromatik dan struktur lagu yang bervariasi serta jarang memanfaatkan dari susunan lirik, jenis suara dan aransemen yang standard. Namun dalam beberapa situasi, adanya pengaruh pada penggabungan riff-riff melodi dan harmonic. Dengan adanya penggabungan antara riff-riff melodi dan harmoni lebih cenderung digunakan dalam penciptaan death metal melodius. Komposisi ini cenderung menekankan suatu pengembangan yang berkelanjutan antara tema dan motif.
Vocal dan Lirik : Tipikal vocal pada Death Metal biasanya cenderung ke
guttural roars, grunts, snarls and low growls yang seringkali disebut sebagai death growls. Death growls secara keliru seringkali dianggap sebagai bentuk teriakan yang menggunakan gaya vocal terendah namun death growls sebenarnya adalah ‘screaming technique’ yang biasanya dilakukan oleh vocalis yang berpengalaman dan diciptakan oleh teknik yang sama sekali berbeda.
Mengenai lirik : death metal itu sendiri biasanya mengangkat tema tentang pembunuhan dan cerita kekerasan, tetapi bisa juga meluas pada tema Satanism, kritik agama, gaib, ilmu kebatinan, dan/atau komentar social. Walaupun kekerasan dapat di explorasikan dalam berbagai gaya lain, Death Metal menguraikan detil dari tindakan ekstrim, mencakup perusakkan, pembedahan, siksaan, perkosaan dan necrophilia. Sarjana sosiologi ‘Keith Kahn-Harris’ (Pengarang dari Extreme Metal : Music and Culture on the Edge) berkomentar bahwa ini dapat dihubungkan dengan sebuah ‘daya tarik’ dengan tubuh bahwa semua orang-orang berbagi sampai taraf tertentu, sebuah ‘keinginan terpenting’ dan walaupun genre ini sering memperindah kekerasan dan ketidakjelasan, ini sama dengan takut dan menjijikkan di antara eksplorasi itu. Pengarang Heavy Metal ‘Gavin Baddeley’ juga menyatakan Bahwa sepertinya adalah suatu koneksi antara ‘bagaimana seseorang mengenal kematian mereka sendiri’ dan ‘beberapa banyak mereka melihat gambaran kekerasan dan kematian’ lewat media. Apalagi, kontribusi para seniman/musisi terhadap genre ini sering mempertahankan Death Metal sebagai suatu format pertunjukkan dan seni yang lebih ekstrim, serupa dengan film horror pada industry perfilman dan tidak perlu dikatakan lagi, ini telah
membawa musisi seperti sedang diserang wabah secara internasional, yang faktanya diakui adalah sering hilangnya atas sejumlah besar anak remaja, yang hidup dibawah pengaruh kekerasan seperti itu tanpa konteks social atau kesadaran tentang mengapa perumpamaan merangsang. Menurut ‘Alex Webster’ (Bassist dari Cannibal Corpse), lirik lagu ‘Gory Lyrics ( lirik berdarah) kemungkinan tidak sebanyak seperti yang orang katakan.tentang apa yang menjaga kita dari menjadi trend atau mainstream seperti Death Metal tidak pernah akan memasuki trend disebabkan lirik lagu yang terlalu berbau gory/berdarah. ‘Aku pikir ini adalah benar-benar musik sebab pertunjukkan yang kejam adalah trend yang totalitas’.
(Sumber dari wikipedia)



No comments:

Post a Comment